SRAGEN - Mari kita bersama-sama,berduyun-duyun menuju ke TPS. Jangan sampai golput, gunakan hak pilihmu. Menuju sukses bangsa dan negeri ini, saudaraku.
Demikian sepenggal lirik lagu ciptaan Wandi (42), warga RT 1 RW VII Mojo Kulon, yang berkumandang di TPS 9 yang tak jauh dari tempat tinggalnya Lirik-liriknya mengajak seluruh warga yang telah memiliki hak pilih untuk datang ke TPS menggunakan hak suaranya. Di bagian lain lagu ini, tertoreh pesan kepada para wakil rakyat yang terpilih, agar perjuangan mereka tidak terhenti di ujung janji. Juga harapan akan suksesnya Pesta Demokrasi tahun ini. Wandi sengaja menciptakan lagu berjudul “Menuju ke TPS” ini, khusus untuk dilantunkan saat pemungutan suara Pemilu Legislatif hari ini (Kamis,9/4).
TPS 9 yang menempati kediaman Alm. Ibu Usup ini tampak unik. Telinga 348 pemilih yang menggunakan hak pilihnya di tempat ini dimanjakan oleh alunan lagu campursari yang dibawakan oleh sekelompok warga setempat. Suasananyapun lebih mirip hajatan, dengan dekorasi, dan sound system. Petugas Pemungutan Suarapun tak mau ketinggalan. Mereka mengenakan pakaian adat Jawa komplit. Meski berbalut beskap, jarik, lengkap dengan blangkonnya, mereka tampak sigap melayani para pemilih.
Suasana berbeda ini tak urung membuat warga Mojo Kulon dan sekitarnya senang. Seperti diakui oleh Hantoro (29). Antri tak lagi membosankan, katanya. Antusiasme warga untuk berpartisipasi dalam Pemilu memang membuat Hantoro menunggu sebelum tiba gilirannya mencontreng. Dalam pada itu, kepalanya tampak bergoyang-goyang mengikuti irama lagu.
Menurut KPPS setempat, Sungadi (50), suasana seperti ini memang sengaja dibuat untuk menghibur warga. Selain itu, petugas yang terlibatpun tak merasa lelah atau mengantuk. Suara merdu ibu-ibu selalu setia melantunkan lagu. Ketika ditanya dari grup mana campursari itu berasal, “Semua lokal, tidak ada yang impor. Mereka semua warga sini,” ujar Sungadi sambil tersenyum lebar. Pakaian adat Jawa dipilihnya untuk membawa suasana berbeda. Selain itu juga bertujuan untuk nguri-uri budaya Jawa. Disamping lagu-lagu yang tengah in saat ini, grup campursari dadakan TPS 09 juga melantunkan tembang-tembang Jawa sepanjang gelar pemungutan suara.
MUSIC TRADISI
Minggu, 06 Februari 2011
Minggu, 30 Januari 2011
SRAGENAN
music tradisi: sragenan: "Gending-gending Sragenan sering menjadi topik perbincangan seru di kalangan pelaku karawitan Jawa. Beberapa orang bahkan mengkritiknya keras..."
SUKOWATI
music tradisi: sukowati: "Kabupaten Sragen merupakan sebuah daerah di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Bisa dikata Sragen adalah kabupaten paling timur di provinsi Jaw..."
KESENIAN ''TAYUB''
Tayub adalah tarian yang telah hidup berabad-abad. Tarian ini tumbuh di lingkungan kerajaan sejak zaman Kerajaan Singosari pada sekitar abad ke-12. Lantas berlanjut hingga periode Kerajaan Majapahit pada 1500 Masehi.
Tarian ini menempatkan sosok wanita sebagai titik sentral dan sejumlah penabuh gending sebagai pengiring. Masyarakat Jawa menyebut penari Tayub sebagai ledhek. Ada pula sebutan tandak atau ronggeng. Kendati diberi banyak sebutan, misinya sama, yakni menghibur.
Gerakan Tayuban identik dengan Tari Gembyong, yang juga biasa dipentaskan di kalangan istana. Kala Tanah Air dijajah Belanda, pihak perhubungan Indonesia kerap menggunakan Tayub sebagai media untuk memperlihatkan identitas. Bahkan, Belanda tertarik dan membangun tiga sekolah Tayub di Cirebon, Jawa Barat.
Namun, pada masa kolonial, Tayub yang anggun berubah menjadi seronok. Minuman memabukkan jenis ciu atau arak mulai berkembang. Ledhek pun menggunakan kemben sebagai kostum ketika di arena. Dan, dikenal pula tradisi saweran.
Selain Tayub, kiprah kesenian sejumlah warga di Grobogan, Jawa Tengah, menyajikan potret tersendiri. Mereka adalah petani yang berkesenian. Atau, petani yang terpaksa berkesenian?
Warga Desa Tambahrejo, Grobogan, adalah gambaran lain tentang interaksi masyarakat dan kesenian. Mereka adalah kaum petani yang mencoba membalik nasib. Ketika masa paceklik tiba, mereka tinggalkan sawah dan menari di pinggiran jalanan. Ya, penari jalanan.
Mereka memang pun tidak memerlukan label atau nama kelompok. Warga setempat mengenal mereka sebagai penari reog jalanan. Mereka memboyong sejumlah alat tetabuhan. Tidak banyak, sekadar sebuah gong dan gendang.
Pusat-pusat keramaian adalah sasaran mereka. Pasalnya, tarian reog membutuhkan respons atraktif para penonton. Tak jarang, mereka pergi menumpang bus untuk mencari tempat yang ramai.
Di sebuah persimpangan lampu merah, para seniman jalanan itu berhenti. Mereka beraksi menghibur sejumlah pejalan kaki yang lalu lalang. Atau, pengayuh becak yang kelelahan. Mereka "bekerja" tanpa mengenal rasa lelah.
Mereka menggelar "pertunjukan" bukan hanya di persimpangan jalan. Tapi, tempat-tempat "keras" semacam terminal juga rutin menjadi sasaran. Di tempat itu, supir dan kondektur angkutan umum memang haus hiburan.
Yang pasti, tempat itu merupakan "habitat" yang paling bersahabat bagi para pelakon reog jalanan itu. Sorak sorai penonton adalah imbalan paling membanggakan dibandingkan recehan yang diterima. Karena, mereka jadi merasa bahwa eksistensi masih diperhatikan. Meski dari masyarakat yang berada di emperan.
Tarian ini menempatkan sosok wanita sebagai titik sentral dan sejumlah penabuh gending sebagai pengiring. Masyarakat Jawa menyebut penari Tayub sebagai ledhek. Ada pula sebutan tandak atau ronggeng. Kendati diberi banyak sebutan, misinya sama, yakni menghibur.
Gerakan Tayuban identik dengan Tari Gembyong, yang juga biasa dipentaskan di kalangan istana. Kala Tanah Air dijajah Belanda, pihak perhubungan Indonesia kerap menggunakan Tayub sebagai media untuk memperlihatkan identitas. Bahkan, Belanda tertarik dan membangun tiga sekolah Tayub di Cirebon, Jawa Barat.
Namun, pada masa kolonial, Tayub yang anggun berubah menjadi seronok. Minuman memabukkan jenis ciu atau arak mulai berkembang. Ledhek pun menggunakan kemben sebagai kostum ketika di arena. Dan, dikenal pula tradisi saweran.
Selain Tayub, kiprah kesenian sejumlah warga di Grobogan, Jawa Tengah, menyajikan potret tersendiri. Mereka adalah petani yang berkesenian. Atau, petani yang terpaksa berkesenian?
Warga Desa Tambahrejo, Grobogan, adalah gambaran lain tentang interaksi masyarakat dan kesenian. Mereka adalah kaum petani yang mencoba membalik nasib. Ketika masa paceklik tiba, mereka tinggalkan sawah dan menari di pinggiran jalanan. Ya, penari jalanan.
Mereka memang pun tidak memerlukan label atau nama kelompok. Warga setempat mengenal mereka sebagai penari reog jalanan. Mereka memboyong sejumlah alat tetabuhan. Tidak banyak, sekadar sebuah gong dan gendang.
Pusat-pusat keramaian adalah sasaran mereka. Pasalnya, tarian reog membutuhkan respons atraktif para penonton. Tak jarang, mereka pergi menumpang bus untuk mencari tempat yang ramai.
Di sebuah persimpangan lampu merah, para seniman jalanan itu berhenti. Mereka beraksi menghibur sejumlah pejalan kaki yang lalu lalang. Atau, pengayuh becak yang kelelahan. Mereka "bekerja" tanpa mengenal rasa lelah.
Mereka menggelar "pertunjukan" bukan hanya di persimpangan jalan. Tapi, tempat-tempat "keras" semacam terminal juga rutin menjadi sasaran. Di tempat itu, supir dan kondektur angkutan umum memang haus hiburan.
Yang pasti, tempat itu merupakan "habitat" yang paling bersahabat bagi para pelakon reog jalanan itu. Sorak sorai penonton adalah imbalan paling membanggakan dibandingkan recehan yang diterima. Karena, mereka jadi merasa bahwa eksistensi masih diperhatikan. Meski dari masyarakat yang berada di emperan.
TAYUB SRAGENAN
Irama musik mengalun dengan suara merdu. Suara gong, dipadu kendang dengan irama rancak saling menjalin, memacu semangat seorang penari Tayub yang bergoyang tanpa lelah. Tampak mimiknya yang ekspresif dengan geraknya yang gemulai, mereka berjoget mengikuti irama tembang-tembang Jawa populer. Kadang tampil sedikit atraktif, yang sangat menggoda perhatian para tamu. Kesenian ini memang sangat elok untuk ditonton. Seakan mata tak lelah tertuju pada para penari. Kesenian tayub memang sudah tidak asing, terlebih bagi warga di daerah Sragen dan sekitarnya. Tayub adalah seni pertunjukan yang dianggap sebagai kesenian rakyat yang muncul pertama kali pada jaman Kerajaan Singosari. Pertunjukan tayub saat ini biasa dilaksanakan warga untuk memeriahkan acara sunatan dan pernikahan.
Tayub pada mulanya merupakan ungkapan kegembiraan untuk menyambut kedatangan tamu dan merupakan bagian dari pesta rakyat. Kesenian ini berupa pertunjukan yang berbentuk tari berpasangan antara tledhek atau joged dengan penari lelaki sebagai penayub. Penari Tayub biasanya mengawali pentas dengan membawakan Tari Gambir Anom, sebuah tarian klasik dengan gaya lemah lembut. Setelah itu, mereka menarikan irama-irama yang sedikit rancak. Yang unik dari tarian ini adalah ikut sertanya para penonton atau tamu untuk menari bersama dengan penari Tayub. Tamu yang dipandang terhormat biasanya akan didaulat ikut menari dengan ditandai dikalungkannya sebuah sampur.
Tentang istilah tayub sendiri ada beberapa pendapat. RT. Suparno Hadipura, S.Pd salah seorang pemerhati kesenian Tayub di Kecamatan Jenar Sragen, menyebutkan “Tayub” berasal dari kata ”Toto lan Guyub” (ditata biar kompak) tatanan sing guyub, yang maknanya tingkah dan gerak harus kompak lahir batin. Kompak antara penari, waranggana dengan penari pria dan penabuh gamelan. Suparno menyebut tayub merupakan salah satu kesenian yang adiluhung. Kesenian Tayub, mengandung filosofi atau pitutur yang tinggi, dalam bahasa Jawa kesenian Tayub mengandung makna ”sapa kang duwe gegayuhan lamun bisa nyingkirake ing panggoda utowo pepalang bakal bisa kasembadan ing sedya”. Arti dalam Bahasa Indonesia, Siapa yang mempunyai cita-cita, harus bisa tahan terhadap segala godaan. Godaan disini dilambangkan dengan penari utama yang disebut Tledek dan penari pengiring yang berada dibelakang tledek yang disebut, Panglareh. Sementara simbol yang mengajak kepada kebaikan di perankan oleh Pangarih. Pangarih merupakan penari pengiring yang berada di belakang Panglaras atau orang yang medapatkan sampur. Penari Tledek dan Panglaras akan menari berhadap-hadapan. Tledek dan Panglareh akan menggoda Panlaras. Sementara, Pangarih berperan untuk mengajak Panglaras agar tidak terpengaruh godaan dan mengajak kepada kebaikan.
Tayub mulai dikenal sejak jaman Kerajaan Singosari. Pertama kali digelar pada waktu Jumenengan Prabu Tunggul Ametung. Kemudian Tayub berkembang ke Kerajaan Kediri dan Mojopait. Pada Jaman Kerajaan Demak, kesenian Tayub jarang dipentaskan. Pada waktu Jaman Kerajaan Demak, kesenian Tayub hanya dapat dijumpai di daerah pedesaan-pedesan yang jauh dari pusat kota kerajaan. Seiring berjalannya waktu, sejak berdirinya kerajaan Pajang dan Mataram, kesenian ini mulai digali kembali. Malahan pada waktu itu Tayub dijadikan Tarian Beksan di Keraton yang digelar hanya pada waktu acara-acara khusus. Namun disayangkan, penjajah Belanda memasukkan unsur negatif yang dikenal dengan 3C, Cium, Ciu dan Colek. ”Dalam tarian tersebut dimasukkan minuman keras, tujuannya agar mengacaukan rasa persatuan. Dengan mabuk, orang kemudian bisa gampang tersinggung, bertengkar, dan sebagainya. Sejak saat itulah penilaian terhadap tayub menjadi negatif,” katanya.
Tayub yang telah terkena pengaruh negatif dari penjajah belanda terus terpelihara hingga pemerintahan dipegang oleh Sunan Pakubuwono III. Sewaktu pemerintahan dipegang oleh Sunan Pakubuwono ke IV, beliau tidak berkenan dengan adanya pengaruh negatif tersebut. Akhirnya Tayub ditetapkan sebagai tari Pasrawungan di masyarakat. Selanjutnya kesenian tayub mengalami perkembangan di daerah Sragen, Wonogiri dan Purwodadi. Di daerah Sragen sendiri, kesenian Tayub banyak berkembang di Kecamatan Jenar, Gesi, Sukodono, Mondokan dan Ngrampal. Citra kesenian tayub pada waktu itu, diperburuk ulah para penari pria atau penonton. Dulu, para penari ini biasa memberi sawer dengan cara memasukkannya ke kemben atau kain penutup dada. Dengan demikian muncul kesan bahwa penayub itu ”murahan”. Tetapi, di era sekarang hal semacam itu sudah amat jarang terjadi.
Kesan miring para penari tayub, dahulu memang sangat terasa. Namun seiring dengan perkembangan jaman, kebiasaan yang tinggalan penjajah tersebut kian lama kian menipis. ”Bahkan sekarang ini kebiasaan negatif 3C pada tayub tidak pernah ada,” ungkap Suparno. Pakaian yang dikenakan para penari pun seiring perjalanan waktu, juga mengalami pergeseran. Kalau dulu pakaian yang dikenakan penari, biasanya hanya mengenakan kemben sebatas dada. Saat ini tampak lebih sopan. Pakaian yang dikenakan tidak ubahnya seperti pakaian wanita adat Jawa kebanyakan.
Image negatif yang melekat pada para penari tayub ini ditepis oleh para penari tayub. Menurut Juniati (27), salah seorang penari Tayub asal Jenar, dilihat dari pakaiannya saja penari tayub jauh lebih sopan dibandingkan penyanyi dangdut atau campur sari. Pakaian penari tayub sekarang sudah jauh berbeda dengan penari tayub dijaman dulu. Sementara para penyanyi dangdut ataupun penyanyi campursari yang sering kali tampil di televisi, kadang masih mengenakan pakaian yang seksi. Para penari Tayubpun juga tidak rela bila penari dikonotasikan negatif. ”Tayub sekarang sudah berbeda dengan tayub jaman penjajah dulu, sekarang sudah tak ada kebiasaan-kebiasaan yang negatif seperti pada jaman dulu,” tegas Juniati.
Meski berkembang dalam lingkungan musik modern, popularitas Tayub tidak kian redup. Kesenian ini masih banyak dijumpai pada acara-acara hajatan di beberapa desa di wilayah Kabupaten Sragen. Tantangan yang kini dihadapi tidak ringan. Perkembangan musik-musik modern dikawatirkan akan dapat menenggelamkankan kesenian Tayub, bila tidak diuri-uri sedini mungkin. Namun, menurut Suparno, di Kabupaten Sragen ada seniman-seniwati yang masih masih peduli terhadap kesenian ini. ” Saya sendiri dan beberapa rekan seprofesi telah beberapa kali menciptakan syair-syair gendhing pengiring tarian tayub, tujuannya adalah agar kasenian ini tetap lestari” terang Suparno. Salah satu upaya untuk melestarikan kesenian tayub, pada acara-acara resmi di kantor kecamatan, tak jarang kesenian tayub tersebut di pentaskan.
Regenerasi penari Tayub di Kabupaten Sragen sendiri telah berjalan dengan cukup baik. Hal ini terbukti dengan banyaknya penari yang mayoritas berusia muda antara 20 hingga 30 tahunan. Biasanya mereka memiliki paras yang cantik dan berbadan bagus. ”Penari yang usianya telah menginjak paroh baya, biasanya mewariskan kesenian ini pada anak ataupun kerabatnya, jadi saya kira tidak perlu dikawatirkan bila regenerasi kesenian ini akan mati” jelasnya. Meskipun kesenian ini tidak bisa dijadikan tumpuan hidup, ternyata perkembangan kesenian ini tidak mati. ”Karena biasanya Tayub dipentaskan pada malam hari, sehingga pada siang hari para group kesenian ini bisa mencari penghasilan lain, biasanya mereka adalah petani, tukang atau wirausawan yang mempunyai usaha kecil dan menengah lainnya” terang Suparno.
Tayub pada mulanya merupakan ungkapan kegembiraan untuk menyambut kedatangan tamu dan merupakan bagian dari pesta rakyat. Kesenian ini berupa pertunjukan yang berbentuk tari berpasangan antara tledhek atau joged dengan penari lelaki sebagai penayub. Penari Tayub biasanya mengawali pentas dengan membawakan Tari Gambir Anom, sebuah tarian klasik dengan gaya lemah lembut. Setelah itu, mereka menarikan irama-irama yang sedikit rancak. Yang unik dari tarian ini adalah ikut sertanya para penonton atau tamu untuk menari bersama dengan penari Tayub. Tamu yang dipandang terhormat biasanya akan didaulat ikut menari dengan ditandai dikalungkannya sebuah sampur.
Tentang istilah tayub sendiri ada beberapa pendapat. RT. Suparno Hadipura, S.Pd salah seorang pemerhati kesenian Tayub di Kecamatan Jenar Sragen, menyebutkan “Tayub” berasal dari kata ”Toto lan Guyub” (ditata biar kompak) tatanan sing guyub, yang maknanya tingkah dan gerak harus kompak lahir batin. Kompak antara penari, waranggana dengan penari pria dan penabuh gamelan. Suparno menyebut tayub merupakan salah satu kesenian yang adiluhung. Kesenian Tayub, mengandung filosofi atau pitutur yang tinggi, dalam bahasa Jawa kesenian Tayub mengandung makna ”sapa kang duwe gegayuhan lamun bisa nyingkirake ing panggoda utowo pepalang bakal bisa kasembadan ing sedya”. Arti dalam Bahasa Indonesia, Siapa yang mempunyai cita-cita, harus bisa tahan terhadap segala godaan. Godaan disini dilambangkan dengan penari utama yang disebut Tledek dan penari pengiring yang berada dibelakang tledek yang disebut, Panglareh. Sementara simbol yang mengajak kepada kebaikan di perankan oleh Pangarih. Pangarih merupakan penari pengiring yang berada di belakang Panglaras atau orang yang medapatkan sampur. Penari Tledek dan Panglaras akan menari berhadap-hadapan. Tledek dan Panglareh akan menggoda Panlaras. Sementara, Pangarih berperan untuk mengajak Panglaras agar tidak terpengaruh godaan dan mengajak kepada kebaikan.
Tayub mulai dikenal sejak jaman Kerajaan Singosari. Pertama kali digelar pada waktu Jumenengan Prabu Tunggul Ametung. Kemudian Tayub berkembang ke Kerajaan Kediri dan Mojopait. Pada Jaman Kerajaan Demak, kesenian Tayub jarang dipentaskan. Pada waktu Jaman Kerajaan Demak, kesenian Tayub hanya dapat dijumpai di daerah pedesaan-pedesan yang jauh dari pusat kota kerajaan. Seiring berjalannya waktu, sejak berdirinya kerajaan Pajang dan Mataram, kesenian ini mulai digali kembali. Malahan pada waktu itu Tayub dijadikan Tarian Beksan di Keraton yang digelar hanya pada waktu acara-acara khusus. Namun disayangkan, penjajah Belanda memasukkan unsur negatif yang dikenal dengan 3C, Cium, Ciu dan Colek. ”Dalam tarian tersebut dimasukkan minuman keras, tujuannya agar mengacaukan rasa persatuan. Dengan mabuk, orang kemudian bisa gampang tersinggung, bertengkar, dan sebagainya. Sejak saat itulah penilaian terhadap tayub menjadi negatif,” katanya.
Tayub yang telah terkena pengaruh negatif dari penjajah belanda terus terpelihara hingga pemerintahan dipegang oleh Sunan Pakubuwono III. Sewaktu pemerintahan dipegang oleh Sunan Pakubuwono ke IV, beliau tidak berkenan dengan adanya pengaruh negatif tersebut. Akhirnya Tayub ditetapkan sebagai tari Pasrawungan di masyarakat. Selanjutnya kesenian tayub mengalami perkembangan di daerah Sragen, Wonogiri dan Purwodadi. Di daerah Sragen sendiri, kesenian Tayub banyak berkembang di Kecamatan Jenar, Gesi, Sukodono, Mondokan dan Ngrampal. Citra kesenian tayub pada waktu itu, diperburuk ulah para penari pria atau penonton. Dulu, para penari ini biasa memberi sawer dengan cara memasukkannya ke kemben atau kain penutup dada. Dengan demikian muncul kesan bahwa penayub itu ”murahan”. Tetapi, di era sekarang hal semacam itu sudah amat jarang terjadi.
Kesan miring para penari tayub, dahulu memang sangat terasa. Namun seiring dengan perkembangan jaman, kebiasaan yang tinggalan penjajah tersebut kian lama kian menipis. ”Bahkan sekarang ini kebiasaan negatif 3C pada tayub tidak pernah ada,” ungkap Suparno. Pakaian yang dikenakan para penari pun seiring perjalanan waktu, juga mengalami pergeseran. Kalau dulu pakaian yang dikenakan penari, biasanya hanya mengenakan kemben sebatas dada. Saat ini tampak lebih sopan. Pakaian yang dikenakan tidak ubahnya seperti pakaian wanita adat Jawa kebanyakan.
Image negatif yang melekat pada para penari tayub ini ditepis oleh para penari tayub. Menurut Juniati (27), salah seorang penari Tayub asal Jenar, dilihat dari pakaiannya saja penari tayub jauh lebih sopan dibandingkan penyanyi dangdut atau campur sari. Pakaian penari tayub sekarang sudah jauh berbeda dengan penari tayub dijaman dulu. Sementara para penyanyi dangdut ataupun penyanyi campursari yang sering kali tampil di televisi, kadang masih mengenakan pakaian yang seksi. Para penari Tayubpun juga tidak rela bila penari dikonotasikan negatif. ”Tayub sekarang sudah berbeda dengan tayub jaman penjajah dulu, sekarang sudah tak ada kebiasaan-kebiasaan yang negatif seperti pada jaman dulu,” tegas Juniati.
Meski berkembang dalam lingkungan musik modern, popularitas Tayub tidak kian redup. Kesenian ini masih banyak dijumpai pada acara-acara hajatan di beberapa desa di wilayah Kabupaten Sragen. Tantangan yang kini dihadapi tidak ringan. Perkembangan musik-musik modern dikawatirkan akan dapat menenggelamkankan kesenian Tayub, bila tidak diuri-uri sedini mungkin. Namun, menurut Suparno, di Kabupaten Sragen ada seniman-seniwati yang masih masih peduli terhadap kesenian ini. ” Saya sendiri dan beberapa rekan seprofesi telah beberapa kali menciptakan syair-syair gendhing pengiring tarian tayub, tujuannya adalah agar kasenian ini tetap lestari” terang Suparno. Salah satu upaya untuk melestarikan kesenian tayub, pada acara-acara resmi di kantor kecamatan, tak jarang kesenian tayub tersebut di pentaskan.
Regenerasi penari Tayub di Kabupaten Sragen sendiri telah berjalan dengan cukup baik. Hal ini terbukti dengan banyaknya penari yang mayoritas berusia muda antara 20 hingga 30 tahunan. Biasanya mereka memiliki paras yang cantik dan berbadan bagus. ”Penari yang usianya telah menginjak paroh baya, biasanya mewariskan kesenian ini pada anak ataupun kerabatnya, jadi saya kira tidak perlu dikawatirkan bila regenerasi kesenian ini akan mati” jelasnya. Meskipun kesenian ini tidak bisa dijadikan tumpuan hidup, ternyata perkembangan kesenian ini tidak mati. ”Karena biasanya Tayub dipentaskan pada malam hari, sehingga pada siang hari para group kesenian ini bisa mencari penghasilan lain, biasanya mereka adalah petani, tukang atau wirausawan yang mempunyai usaha kecil dan menengah lainnya” terang Suparno.
Langganan:
Postingan (Atom)